Pilih bahasa yang di inginkan:- BAHASA MELAYU

Saturday, October 3, 2020

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 4)


Meriam lama di Pulau Penyengat
UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU..... Sambungan dari Bahagian 3....

Pasal tiga.
Pada menyatakan tokong pulau dan teluk rantau di dalam jajahan Riau dan Lingga dan asalnya siapa yang memiliki dan siapa yang punya.

Bermula adalah Johor dan Pahang Riau dan Lingga adalah masa dahulunya tiada seorang Raja dan tiada seorang Menteri yang memiliki tetapi adalah orang yang diam pada pihak Riau dan Bintan dan Lingga adalah segala jajahannya masing masing ada dengan kepalanya. Adalah isinya daripada pihak rakyat rakyat. Dan daripada pihak sebelah daratan seperti Pahang dan Melaka dan segala isinya orang hutan bangsanya Pangan. Dan adalah Bintan pada masa itu kepalanya seorang perempuan namanya Tun Seri Binai maka ialah yang mengambil Raja yang datang dari Bukit Siguntang nama nya Seri Teri Buana, maka ialah yang menjadi Raja di Bintan maka turun temurun dari Seri Teri Buana inilah asal Raja Melayu melarat sampai ke Singapura dan sampai ke Melaka, maka anak cucu dialah yang dialahkan oleh Aceh dan Jawa sampai ikan todak pun melanggar juga pada ceritanya. Demikianlah kisahnya hingga sampai pada zaman Sultan Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang dialahkan oleh Raja Kecik yang tersebut pada pasal yang pertama. Pada masa inilah dialahkan oleh Raja Bugis pula lalu menjadi Raja Muda didalam Riau seperti yang tersebut pada pasal yang pertama dahulu itu. Maka jikalau hendak tahu perjalanan Raja Melayu dengan Raja Bugis hendaklah engkau lihat pada Tawarikh Al Kubra dan Tawarikh Al Wusta akan tetapi adalah kami hendak menyatakan barang yang mustahik bagi tanah tanah bagi siapa yang mustahik ini maka tiadalah kami panjangkan maka tiliklah pada kitab yang dua itu.

Syahdan maka Raja yang ketiga itu lain daripada Yang DiPertuan Besar maka masing masing dengan kuasanya serta pemerintahannya. Dan adalah Raja yang ketiga itu barang di mana mana ia duduk pada tempat itulah yang punya kuasa sendirinya dan punya perintah serta dengan takluk daerahnya tiadalah boleh Yang DiPertuan Besar ambil kuasanya itu diganti dengan orang lain adalah muhhal al syahidnya seperti umpamanya Bendahara Pahang maka ialah yang mentadbirkan Pahang dan dialah sendiri berbuat nazam peraturan negerinya membuat segala pegawai dan orang besar besarnya. Dan demikianlah Temenggung dimana mana tempat yang dihidupkannya adalah kuasanya itu kepadanya mentadbirkan daripada perintah dan hasilnya.

Demikianlah Yang DiPertuan Muda Riau maka adalah ia kuasa memerintahkan daripada segala pekerjaan Yang DiPertuan Besar dengan segala daerah takluknya. Adalah tahta Kerajaan Negeri Riau dengan segala daerah takluknya adalah sebab demikian itu yaitu menduduki pesaka yang telah dahulu dahulu.
Maka adalah ia menerima pesaka itu beberapa kali. Sekali ia menerima daripada Marhum Sulaiman, kedua kalinya ia menerima daripada Marhum Sulaiman juga demikian juga yang ketiga kali nya pula ia menerima daripada Marhum Sulaiman jua, yaitu Marhum Kelana Jaya Putera dan Marhum Mangkat DiKota dan Marhum Janggut dan keempat kalinya ia menerima dengan kemufakatan isi negeri serta Bendahara Pahang yaitu Marhum Teluk Ketapang yang menerima dan kelima kalinya menerima pesaka daripada Marhum Mahmud yaitu Yang DiPertuan Muda Raja Ali yang dinamai Marhum Pulau Bayan dan keenam kalinya Yang DiPertuan Muda itu menerima pesakanya itu daripada Marhum Mahmud tatkala lepas daripada diserahkan Holanda dan Inggris akan Riau kepada Sultan Mahmud maka Sultan Mahmud pun menyuruh mengambil Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar di Kelang serta sampai maka dipulangkanlah pesakanya dan ketujuh kalinya, menerima pesakanya daripada Sultan Muhammad yaitu lah Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman. Adalah ia menerima pesakanya dengan Sultan Muhammad itu dengan sumpah setianya seperti adat istiadat lama jua dan yang kedelapan kalinya Yang diPertuan Muda Riau menerima pesakanya itu daripada Sultan Mahmud serta Gubernur Jenderal Betawi serta dengan segala anak Raja Raja kaum kerabatnya menaruh tanda tangan sekaliannya yaitu Yang DiPertuan Muda Raja Ali adanya.
Inilah segala Raja Raja yang tersebut itu memiliki negeri maka hal keadaannya bersekutu dengan Raja Melayu pada nama Kerajaan.

Sebermula adapun akan teluk rantau tokong pulau itu maka yaitu kami mula ceritanya itu daripada sebelah Pulau Perca yaitu seperti Reteh dan Batin Enam Suku. Adalah asalnya yang punya tempat itu Raja Minangkabau yaitu Raja Hijau kemudian diambilnya dengan perang daripada Siantan Inderagiri. Adalah Raja Hijau itu empat Raja Raja sertanya, pertama Raja Hijau, kedua Raja Metiak, ketiga Raja Lais dan keempat Raja Bayang. Kemudian dipukul dan diperangi oleh Yang DiPertuan Muda Raja Haji dan dialahkannya sekali. Jadi dimilikinya lah hingga sampailah kepada anak cucunya sekarang ini. Adapun Dani ada seorang kepalanya yang menggelarkan dirinya Datuk Malaikat bangsa Minangkabau. Maka adalah takluknya daerahnya hingga sampai Karimun dan Buru dan Kundur dan Ungar. Maka dipukul juga oleh Raja Haji itu alah pula tempat itu jadi miliklah hingga sampai anak cucunya. Kemudian lagi daripada itu tatkala sudah Inggeris membataskan pulau pulau yang disebelah Johor dan disebelah Riau maka dipukul pulak oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar putera Marhum Raja Haji bersama sama Gubermen Holanda membantunya alah pulak Karimun itu maka setelah asal daripada alah itu maka diganti belanja pulak oleh Marhum Raja Jaafar dengan segala Menteri Menterinya maka adalah yang masuk daerahnya itu Karimun Ungaran dan Buru dan Pulau Terung hingga Taman. Inilah adanya.

Adapun tentang pulau pulau yang tujuh itu adalah asalnya yang punya itu Raja Jawa. Pada masa dahulu kalanya maka diberikan kepada Raja Melaka. Kemudian hingga turun temurunlah sampai kepada Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, maka dipukul pulak oleh Raja Alam anak Raja Kecik maka dapatlah ketangan nya, maka dipukul pula oleh Marhum Sultan Sulaiman tetapi tiada dapat dikalahkannya, maka baliklah ia ke Riau mintak dipukulkan sekali lagi kepada Yang DiPertuan Muda Marhum Janggut serta segala pertikaman yang diambil di Selangor orang baik baik banyaknya lima ratus orang lalulah alah maka dipesakailah kepada Yang Dipertuan Muda perintah itu hingga sampai sekarang ini.

(Bersambung ke Bahagian 5)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 3)

UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU..... Sambungan dari Bahagian 2....

Pasal dua.
Pada menyatakan adat istiadat Raja Raja Melayu yang menyalahi setengah daripada adat Raja Raja yang di atas angin.

Bermula adalah adat istiadat Raja di negeri Melayu yang menyalahi Raja Raja diatas angin itu yaitu pada empat tempat. Pertama tama pada sumpah setianya, kedua pada aturan Menteri nya, ketiga pada bahasa yang dibahasakan kepada Yang DiPertuan Besar, keempat pada menzahirkan gelarnya.

Bermula surah yang pertama yakni pada pekerjaan sumpah setianya. Maka yaitu adalah pada tiap tiap Raja Melayu itu memperbuat perjanjian sumpah setia atas Kerajaan atau Undang Undang yang diperpegang maka yaitu turun temurun hingga sampai kepada anak cucunya, barangsiapa yang mungkar anak cucu cicitnya tiadalah selamat duania akhirat, masing menaruh cap tanda tangan. Maka tatkala lagi mengantikan naik Kerajaan daripada anak cucunya maka diperbaharui lah sumpah setia itu. Demikianlah istilahnya adanya.
Bermula surah yang kedua yakni pada aturan Menteri nya, maka yaitu bersalahan dengan setengah daripada Raja Raja yang atas angin yaitu adalah ia tiap tiap menggantikan Menterinya tiada dengan naik derajat sedikit sedikit bertangga tangga seperti kebanyakan aturan Menteri Raja Raja yang diatas angin itu daripada pangkat di bawah naik bertangga tangga sedikit sedikit kemudian baharu jadi besar sekali. Maka adat Raja Melayu tidak begitu. Maka adalah aturan Raja Melayu: Temenggung dan Bendahara apalagi Raja Muda maka yaitu apabila ada asalnya maka dijadikanlah atas yang patut pada isi negeri maka digelar orang yang tiga ini kain kafan buruk tiada berganti lagi artinya tiada boleh di pecat pecat dan dimakzulkan sekali kali melainkan jikalau gila atau keluar daripada agama Islam yaitu boleh diganti dengan muafakat segala isi negeri dan jikalau ia zalim maka yaitu atas segala bicara isi negeri pada menolakkan zalimnya itu dan dimakzulkan tiada juga boleh.

Bermula surah yang ketiga, hendak menjadikan pangkatnya itu hendaklah dengan asalnya dan tiada boleh yang bukan asalnya daripada Menteri Menteri yang kecil kecil hendak menjadi orang bertiga itu jikalau sebagaimana sekali besar jasanya tiadalah ia boleh menjadi yang berempat itu yaitu Yang DiPertuan Besar dan Yang DiPertuan Muda dan Bendahara dan Temenggung. Dan tiada pula boleh bernikah kahwin yang lain daripada keturunan Raja yang berempat itu, maka adalah keempat Raja itu boleh berkahwin setengah atas setengahnya kerabat atau anak cucunya maka tiadalah boleh seperti anak anak Menteri yang lain yang dibawah Raja yang berempat itu mengahwani anak Raja yang berempat itu inilah adat istiadatnya.

Bermula surah yang keempat yakni pada pekerjaan menzahirkan gelarnya dan lantiknya. Bermula adalah menzahirkan gelaran maka yaitu tiada tentu daripada Yang DiPertuan Besar semata mata, akan tetapi boleh daripada setengah daripada Raja Raja yang berempat itu menzahirkan gelarannya dan lantiknya setengah akan setengahnya adalah muhas al syahidnya.

Apabila salah seorang daripada Raja yang berempat itu yang patut menerima pesakanya maka diangkatnyalah setengah daripada setengahnya. Adapun seperti Marhum Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah itulah pertama tama Raja Melayu mula mula diangkat oleh Yang DiPertuan Muda asalnya Raja Bugis. Demikian lagi Sultan Mahmud diangkat digelar oleh Yang DiPertuan Muda Marhum Janggut di Riau. Dan lagi Marhum Sultan Abdul Rahman digelar diangkat dijadikan Raja oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar maka dilantik sekali lagi di Riau oleh Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar serta dengan seorang wakil dari Gubernur Jenderal Betawi yang bernama Schoutbijnacht yaitu Raja Laut. Demikian lagi puteranya Sultan Muhammad dinaikkan Raja oleh segala orang orang serta anak Raja Raja sekelian adanya. Demikian lagi Yang DiPertuan Besar Sultan Mahmud Muzaffar Syah ini dilantik oleh ayahandanya serta dengan Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman serta dengan Bendahara Tun Ali. Inilah hal Yang DiPertuan Besar.

Adapun Yang DiPertuan Muda pertama tama Yang DiPertuan Muda Daeng Merewah yaitu Kelana Jaya Putera maka dilantik oleh Marhum Sulaiman didalam Riau. Demikian lagi Marhum Mangkat Di Kota dilantik diRiau juga. Adapun Marhum Janggut dilantik digelar di Selangor. Dan Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Haji yaitu yang mangkat di Teluk Ketapang yang bergelar Pengeran Suta Wijaya maka dilantik dan dizahirkan namanya di negeri Pahang tatkala ia balik dari perang mengalahkan negeri Sanggau dan Mempawah. Dan Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Ali dilantik digelar dengan mufakat segala anak Raja Raja dan orang banyak. Dan Yang DiPertuan Muda Raja Jaafar disuruh ambil oleh Sultan Mahmud dari Selangor ke Lingga dipulangkan pesakanya yaitu diserahkan Riau dan Lingga dengan segala daerah takluknya menjadi Yang DiPertuan Muda seperti adat istiadatnya yang telah lalu. Kemudian Marhum Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman dijadikan Yang DiPertuan Muda digelar di Lingga maka pada masa Marhum inilah menetapkan sumpah setia yang lama dengan Sultan Mahmud Muzaffar Syah didalam negeri Lingga bersumpah setia dengan Al Quran Al Azim. Adalah sumpah setia dan perjanjian itu didalam Tawarikh Al Wusta yang ada didalam tangan Yang DiPertuan Muda Raja Ali yaitu saudara Marhum Abdul Rahman.
Maka Yang DiPertuan Muda Raja Ali diangkat dilantik di Lingga dijadikan Raja didalam Riau serta dengan daerah takluknya dengan pemilihan Gubernur Jenderal serta Sultan Mahmud Muzaffar Syah serta dengan ba’it segala anak Raja masing masing tiap tiap seorang menaruh tandatangan yang menyukakan Raja Ali jadi Yang DiPertuan Muda Riau. Maka dipulangkan pesakanya memerintahkan Lingga dan Riau serta daerah takluknya sekalian.

Maka inilah hah ehwal aturan antara Yang DiPertuan Besar dengan Yang DiPertuan Muda adanya.

(Bersambung ke Bahagian 4)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 2)


Makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat
UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU (adalah bahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Penasihat Kerajaan pada tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806). Sambungan dari Bahagian 1....

Bermula adapun Marhum Jaafar maka beranakkan Yang DiPertuan Muda Raja Abdul Rahman dan Yang DiPertuan Muda Raja Ali yang lainnya daripada itu beberapa puteranya laki laki dan perempuan maka tiadalah kami sebutkan disini kerana hendak mengambil sempena.

Bermula adalah Raja Maimunah puteri Arung Parani dengan Tengku Tengah maka bersuamikan Temenggung Johor dan adalah Daeng Kecik beranakkan Temenggung Abdul Rahman dan Temenggung Abdul Rahman beranakkan Temenggung Selat yang sekarang di Teluk Belanga.

Bahawa inilah segala Raja Raja Melayu yang sudah bercampur baur dengan Raja Bugis. Adapun salasilah Raja Melayu daripada sebelah bapanya sahaja yang diambil daripada masa alah Riau, tatkala sudah dibantu Raja Bugis yaitu Marhum Abdul Jalil beranakkan Marhum Sulaiman dan Marhum Sulaiman beranakkan Marhum Abdul Jalil suami Tengku Putih anak Marhum Arung Pali digelar orang sekarang ini Marhum Mangkat di Kota. Maka Marhum Abdul Jalil ini tiada sempat menjadi Raja ialah beranakkan Marhum Sultan Mahmud dan Marhum Sultan Mahmud beranakkan Sultan Abdul Rahman dan Sultan Abdul Rahman beranakkan Sultan Muhammad dan Sultan Muhammad beranakkan Sultan Mahmud yang maujud pada tarikh surat ini.

Bermula adalah Bendahara Johor daripada masa alah Riau oleh Siak itu hingga pada masa tarikh surat ini yaitu pertama tama, Tun Abas kedua Tun Abdul Majid ketiga Tun Koris keempat Tun Ali kelima Tun Muhammad Tahir yang maujud pada tarikh surat ini. Adalah suku suku Bendahara ini tiada berkerabat dengan Raja Bugis akan tetapi ada ia satu asal dengan Raja Johor yaitu saudara yang tua kepada Marhum Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang adanya.

Syahdan kembali pula kami menyatakan peraturan pada Raja Raja yang menjadi Yang DiPertuan Muda Riau. Adalah yang mula mula awal menjadi Yang DiPertuan Muda Riau yaitu Kelana Jaya Putera. Maka setelah selesainya pada menjadi Yang DiPertuan Muda maka membuatlah Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan Sultan Alauddin Ibni Opu akan suatu perjanjian sumpah setia sampai turun temurun kepada anak cucu cicitnya seperti yang tersebut surat surat sumpah setia yaitu memulangkan perintah negeri Johor dan Pahang dengan segala daerah takluknya Riau dan Lingga dengan segala daerah takluknya teluk rantau, tokong pulau, rakyat sekalian kepada Yang DiPertuan Muda dengan sumpah setia menaruh cap tandatangan sebelah menyebelah maka diperpegang setia ini.

Syahadan apabila mangkat Sultan Alauddin Syah Ibni Opu maka digantikan oleh saudaranya yang muda bernama Arung Pali maka bergelar Yang DiPertuan Muda Sultan Alauddin juga maka telah dibaru barui pulak sumpah setia lama itu. Kemudian maka mangkat pula Yang DiPertuan Arung Pali itu yang disebut juga Marhum yang Mangkat Dikota. Maka digantikan pula akan dia oleh anak saudaranya yaitu Daeng Kemboja yang nama gelarnya Marhum Janggut itu.

Maka setelah mangkat pula Marhum Janggut itu maka telah digantikan pula dengan sepupunya yang bernama Raja Haji yaitu putera Marhum Mangkat di Kota. Maka Yang DiPertuan Muda inilah yang mengalahkan negeri Kedah dan Perak dan Inderagiri dan Retih dan Dani yaitu batin enam suku yang syahid berperang dengan Holanda di Melaka.

Setelah mangkat Marhum itu maka digantikan pula oleh anak saudara sepupunya yang bernama Raja Ali maka bergelar Sultan Alauddin Syah juga. Maka apabila mangkat Yang DiPertuan Muda Raja Ali maka digantikan pula oleh saudara dua pupunya yang bernama Raja Jaafar maka Marhum Raja Jaafar inilah serta Tengku Besar yang membuat perjanjian kontrak dengan Gubermen Holanda yaitu pada masa Jendral Betawi yang bernama Baron Van Der Capellen.

Maka apabila mangkat Marhum ini maka digantikan pula oleh puteranya yang bernama Raja Abdul Rahman. Maka telah mangkat Marhum Abdul Rahman maka digantikan pula oleh saudaranya yang bernama Raja Ali dengan kesukaan Yang DiPertuan Lingga serta Gubermen Holanda serta ba’at oleh segala isi negeri daripada segala anak Raja Raja orang baik baik sekalian adanya.

Maka adalah tarikh awalnya segala Raja Raja yang tersebut ini adalah pada suatu kitab bernama Tawarikh Al Wusta yang ada maujud pada masa ini didalam tangan Yang DiPertuan Muda Riau.

Adalah Yang DiPertuan Besar itu lima orang pertama tama Almarhum Sulaiman kedua Almarhum Mahmud yaitu Putera Raja Abdul Jalil ketiga Marhum Sultan Abdul Rahman keempat Marhum Muhammad kelima Yang Dipertuan Lingga Sultan Mahmud Muzaffar Syah.

Adapun Bendahara nya bernama Tun Abas Sri Maharaja dan kedua Tun Abdul Majid ketiga Tun Koris keempat Tun Ali kelima Tun Muhammad Tahir.

Adapun Temenggungnya Seri Maharaja yaitu suami Raja Maimunah saudara Almarhum Janggut yaitu Daeng Perani anak Opu kedua Temenggung Abdul Rahman anak Daeng Kecik anak Raja Maimunah ketiga Temenggung Ibrahim anak Temenggung Abdul Rahman

Yang tersebut itu adalah segala ehwalnya segala Raja Raja itu adalah sejarah yang tersebut tadi adanya.

(Bersambung ke Bahagian 3)...

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 1)

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat

UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU
1. Asal Usul Raja Melayu Riau-Lingga-Johor dan Pahang.
2. Adat Istiadat Raja Raja Riau-Lingga-Johor dan Pahang.
3. Jajahan dan daerah takluk nya.
4. Bahasa Istana.
5. Wakil Mutlak.

Tahun Hijrah 1221. (Tahun 1806 M).

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Bahawa sesungguhnya inilah suatu yang diperpegang pada masa ini oleh Raja Raja yang dikeluarkan daripada Sejarah Melayu yang bernama Tawarikh Al Wusta yang diperbuat antara Raja Melayu dengan Raja Bugis yakni Yang DiPertuan Besar dengan Yang Dipertuan Muda yang dimukhtasarkan di sini kerana hendak mengambil sempena yang telah di mufawidkan yang amat teguh. Maka didalam nya beberapa pasal.

Pasal yang pertama pada menyatakan asal Yang DiPertuan Besar dan Yang DiPertuan Muda dengan Bendahara dan Temenggung.

Pasal yang kedua pada menyatakan adat istiadat Raja Melayu dan istilahnya yang menyalahi adat Raja di atas angin adanya.

Pasal yang ketiga pada menyatakan segala tokong pulau pulau siapa yang punya milik, dengan jalan apa dimiliki oleh Raja itu dan pada masa mana dan bagaimana maka menjadi milik kepada Raja itu.

Pasal yang keempat pada menyatakan bahawa Raja Raja yang diperbahasakan dan adat nobat dan semberap jawatan adanya.

Pasal yang kelima pada menyatakan makna wakil yang tersebut didalam kontrak perjanjian dengan Holanda.
Maka inilah kami nyatakan dibawah ini adanya.

Pasal satu.
Pada menyatakan asal Raja Melayu yang mukhtasar yang diambil daripada Marhum Abdul Jalil yang mangkat di Kuala Pahang pada Hijrah seribu seratus dua puloh Sembilan tahun 1129. Mangkatnya itu sebab terbunuh berperang dengan Raja Kecik Siak. Menjadi Raja Keciklah Kerajaan di Riau dengan daerah takluknya pada Hijrah seribu seratus tiga puloh tiga tahun 1133. Pada masa itulah Putera Putera Marhum Abdul Jalil dibawa oleh Laksemana Nakhoda Sekam ke Riau kepada Raja Kecik seorang bernama Raja Sulaiman dan seorang bernama Raja Abdul Rahman dan perempuan nya lima orang maka dibuat oleh Raja Kecik penjawat membawa tepaknya dan lain lain.

Di dalam hal itu maka datanglah Raja Bugis bernama Kelana Jaya Putera nama batang tubuhnya Daeng Merewah dan serta segala saudaranya yaitu segala anak anak Opu Tandri Daeng Rilaga dan adalah datangnya sebab dijemput oleh Raja Melayu minta bantu minta tolong pukulkan Raja Kecik itu. Maka dipukulnya dengan segala takluk daerahnya maka alahlah Riau itu maka Raja Kecik pun larilah ke Siak dan dapatlah negeri Riau dengan takluk daerahnya ke tangan Raja Bugis yang bernama Kelana Jaya Putera itu yaitu pada Hijrah seribu seratus tiga puloh empat tahun 1134. Kemudian diangkatlah oleh Kelana Jaya Putera itu akan Raja Sulaiman itu digelarnya Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Didalam pada itu minta pula Sultan Sulaiman kepada Kelana Jaya Putera itu hendak dijadikannya saudaranya dunia akhirat yang tiada boleh bercerai cerai selama lamanya. Maka dikabulkan oleh Kelana Jaya Putera permintaan Sultan Sulaiman itu di gelarnya pula Sultan Sulaiman akan Kelana Jaya Putera itu Yang DiPertuan Muda Sultan Alauddin Syah Ibni Opu.

Maka ada pula saudara Kelana itu bernama Opu Daeng Celak di sebelah Barat di panggil orang Arung Pali. Maka dikahwinkan pula dengan saudaranya yang bernama Tengku Mandak gelarnya Tengku Puan dan seorang lagi saudara Kelana Jaya Putera iaitu Opu Arung Parani dikahwinkan pula oleh Sultan Sulaiman dengan saudaranya bernama Tengku Tengah. Maka Tengku Tengah beranakkan Raja Maimunah. Adapun Tengku Mandak itu beranakkan Tengku Hitam dan Tengku Putih dan Tengku Putih itu beranakkan Marhum Mahmud dan Marhum Mahmud itu beranakkan Sultan Abdul Rahman Lingga dan Sultan Husin Selat dan Sultan Abdul Rahman itu beranakkan Sultan Muhammad dan Sultan Muhammad beranakkan Sultan Mahmud yang ada pada tarikh membuat surat ini. Dan ada lagi putera Arung Pali dua orang laki laki yang seorang nama nya Raja Haji yaitu Marhum Mangkat di Teluk Ketapang dan seorang lagi bernama Raja Salih yaitu yang menjadi Yang DiPertuan Selangor dan dua orang perempuan lagi Raja Halimah dan Raja Aminah.
Syahadan adalah Yang DiPertuan Raja Haji itu beranakkan Marhum Jaafar dan Raja Idris dan Raja Ahmad dan yang lain daripada itu perempuan semuanya yaitu Engku Puteri dan Engku Besar dan Raja Buntit dan Engku Selangor dan Raja Pasir dan Raja Aminah dan Engku Teluk.

(Bersambung ke Bahagian 2)...

UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU

UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU yang di pos kan ini adalah bahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis oleh Raja Ali Haji, Penasihat Kerajaan pada tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806.

Selain menulis UNDANG UNDANG LIMA PASAL RIAU yang merupakan sebahagian Dari Undang Undang Tubuh atau Perlembagaan Kerajaan Riau Lingga yang ditulis tahun Hijrah 1221 bersama tahun Masihi 1806 dan juga lain lain kitab, Raja Ali Haji juga telah menyambung tulisan kitab Tuhfat Al-Nafis (Hadiah yang istemewa) iaitu mengenai Sejarah Kerajaan Riau Lingga yang dimulakan oleh ayahanda nya, Raja Haji Ahmad Ibni Yang DiPertuan Muda Raja Haji. Kitab Tuhfat Al-Nafis yang asalnya ditulis didalam tulisan Jawi itu kemudian nya di cetak dalam tulisan Rumi setelah penerbit buku ini iaitu Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dan editor buku ini iaitu Virginia Matherson membuat projek perubahan tulisan daripada Jawi ke Rumi pada sekitar tahun 1980an kerana permintaan buku buku tulisan Rumi telah menjadi keutamaan.