Pilih bahasa yang di inginkan:- BAHASA MELAYU

Sunday, October 4, 2020

Undang Undang Lima Pasal Riau (Bahagian 5)

UNDANG-UNDANG LIMA PASAL RIAU..... Sambungan dari Bahagian 4....


Pasal empat. 
   
Pada menyatakan bahasa tatkala berkata kata yang dibahasakan dan menyatakan segala nobat yang patut dipernobatkan kerana nobat itu satu perkara kebesaran Raja dibawah angin ini dan menyatakan jawatan.

Bermula maka adapun bahasa yang diperbahasakan kepada Yang DiPertuan Besar itu maka bahasa itu juga diperbahasakan kepada Yang DiPertuan Muda yaitu seperti perkataan Titah dan Tuanku yakni berTuanku kepadanya dan kepada Bendahara dan Temenggung dikatakan Sabda.

Adapun bahasa yang diperbahasakan antara Yang DiPertuan Besar dengan Yang DiPertuan Muda itu maka adalah seperti perbahasaan antara tua dengan muda seperti Ayahanda dan Anakanda dan Kekanda dan Adinda. Maka Temenggung dan Bendahara dia membahasakan dirinya sendiri tatkala ia menghormatkan Raja maka dikatakannya Patik Hamba Sedia. Ada pun Yang DiPertuan Muda ia membahasakan dirinya sendiri Patik Hamba Setia. Maka bahasa inilah jikalau orang bodoh menerimanya dipikirkannya lah Raja yang bertiga itu seperti hamba betul kepada Yang DiPertuan Besar maka disangkakannyalah oleh si bodoh itu Yang DiPertuan Besar boleh membuat apa suka atas Raja yang bertiga itu yang menyalahi adat istiadat maka yaitu pekerjaan batal sekali adanya.

Bermula maka adalah asalnya nobat itu keluar daripada Raja Melaka dan Raja Minangkabau yang bernama Pagar Ruyung dan Raja di Goa yaitu Raja Bugis yang asal sekali maka kemudian Raja Melaka itu memberi kuasa kepada Raja di Perak dan Raja di Kedah dan Raja di Inderagiri tetapi nobat yang di Inderagiri itu tiada bernafiri adanya, kemudian tatkala masa sudah bersetia dengan Raja Muda Yang DiPertuan Riau maka jadi dualah nobat dalam Riau kepada ketika itu yaitu kepada Yang DiPertuan Besar nobat Melayu dan kepada Yang DiPertuan Muda nobat cara Bugis.

Bermula maka jawatan semberap sama juga Yang DiPertuan Muda dengan Yang DiPertuan Besar melainkan payong dan bedil dan kain dukung iaitu bersalahan kerana Yang DiPertuan Besar itu bedil dan kain dukungnya serba enam belas tetapi Yang DiPertuan Muda bedilnya sebelas dan kain dukungnya delapan. Adapun Bendahara bedilnya Sembilan dan Temenggung tujuh yang di adatkan dan jika dimufakatkan serta dikurniakan terkadang lebih jua adanya.